Campus Career News (CCN)
Campus Career News Beyond Campus Into Careers
Tidak ada artikel yang cocok dengan "".

Kuliah Rekayasa Perangkat Lunak untuk Industri Manufaktur Cikampek: Kompetensi Apa yang Dibutuhkan?

Industri manufaktur Cikampek semakin membutuhkan perangkat lunak untuk mendukung proses produksi, pengendalian kualitas, dan distribusi. Lulusan rekayasa perangkat lunak perlu menguasai pemrograman, basis data, pengujian aplikasi, serta memahami proses bisnis industri. UBSI Kampus Cikampek mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa melalui pembelajaran berbasis proyek, magang, kunjungan industri, dan pelatihan bersama praktisi.

S
Super Admin Marcomm CCN
UBSI Cikampek
Selasa, 27 Oktober 2026 • 11:34 WIB
1 kali dibaca
Bagikan rilis berita ini:
Kuliah Rekayasa Perangkat Lunak untuk Industri Manufaktur Cikampek: Kompetensi Apa yang Dibutuhkan?
Kuliah Rekayasa Perangkat Lunak untuk Industri Manufaktur Cikampek: Kompetensi Apa yang Dibutuhkan?

Industri manufaktur modern semakin bergantung pada perangkat lunak. Mulai dari sistem perencanaan sumber daya perusahaan, pencatatan produksi, pengendalian kualitas, hingga pelacakan distribusi, hampir seluruh proses kini ditopang oleh aplikasi yang dirancang agar sesuai dengan kebutuhan operasional. Kondisi ini menjadikan kompetensi rekayasa perangkat lunak semakin relevan bagi kawasan industri seperti Cikampek.

Rekayasa perangkat lunak berfokus pada proses pengembangan aplikasi secara sistematis, mulai dari analisis kebutuhan, perancangan, pembuatan kode, pengujian, hingga pemeliharaan. Pendekatan ini penting karena perangkat lunak untuk lingkungan industri harus andal, aman, dan mudah disesuaikan dengan perubahan proses bisnis.

Beberapa kompetensi yang dibutuhkan antara lain penguasaan bahasa pemrograman, pemahaman basis data, kemampuan merancang antarmuka dan arsitektur aplikasi, serta pengujian perangkat lunak. Selain itu, pengembang juga perlu memahami dasar-dasar keamanan aplikasi dan praktik kerja tim, seperti pengelolaan versi kode dan dokumentasi yang rapi.

Tidak kalah penting adalah kemampuan memahami proses bisnis industri. Pengembang yang mengerti alur produksi, gudang, dan pelaporan akan lebih mudah menerjemahkan kebutuhan pengguna menjadi solusi yang tepat guna, sehingga aplikasi yang dibuat benar-benar mendukung efisiensi di lapangan.

Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Cikampek menyiapkan mahasiswa di bidang teknologi melalui kurikulum yang diperbarui secara berkala serta kerja sama dengan mitra industri. Kunjungan industri, magang, dan pelatihan bersama praktisi memberi mahasiswa kesempatan untuk memahami bagaimana teknologi diterapkan pada lingkungan kerja yang sesungguhnya.

Di lapangan, pengembang perangkat lunak untuk industri manufaktur sering menghadapi tantangan yang khas. Sistem harus dapat berjalan stabil dalam jam operasional yang panjang, terhubung dengan sistem lain, dan mudah digunakan oleh pekerja yang tidak berlatar belakang teknologi. Karena itu, aspek kenyamanan pengguna dan keandalan menjadi pertimbangan sejak tahap perancangan.

Metode kerja modern turut memengaruhi cara pengembangan perangkat lunak. Pendekatan iteratif, kolaborasi lintas tim, dan pengujian berkelanjutan semakin umum digunakan karena memungkinkan perubahan kebutuhan diakomodasi dengan lebih cepat. Mahasiswa yang terbiasa dengan pola kerja ini akan lebih mudah beradaptasi ketika memasuki dunia profesional.

Peluang karier di bidang ini pun beragam, mulai dari programmer, software developer, quality assurance, hingga system integrator. Bagi industri manufaktur, kehadiran tenaga yang mampu mengembangkan dan memelihara sistem internal dapat membantu perusahaan mengurangi ketergantungan pada solusi pihak ketiga serta menyesuaikan sistem dengan kebutuhan operasional.

Nurul Ichsan, M.Kom selaku Kepala Kampus UBSI Cikampek menyampaikan pandangannya mengenai kompetensi yang perlu disiapkan calon pengembang perangkat lunak.

“Menulis kode memang penting, tetapi pengembang yang baik juga harus memahami masalah yang ingin diselesaikan. Di lingkungan industri, ketepatan solusi sama pentingnya dengan kecanggihan teknologinya.”

Nurul Ichsan, M.Kom, Kepala Kampus UBSI Cikampek

Pandangan ini menggarisbawahi bahwa kompetensi teknis perlu dilengkapi dengan pemahaman konteks. Mahasiswa yang terbiasa mengerjakan proyek berbasis kasus nyata akan lebih siap ketika dihadapkan pada kebutuhan perusahaan yang kompleks.

Pandangan tersebut turut dibenarkan oleh Luthfiya Awwaliyah, mahasiswa Sistem Informasi UBSI, yang berbagi pengalaman mengenai pentingnya mengerjakan proyek berbasis kasus nyata.

“Saya merasa belajar jadi lebih mudah ketika tugasnya berupa proyek yang mirip dengan kebutuhan dunia kerja. Kita jadi paham bahwa membuat sistem itu bukan hanya soal kode, tapi juga soal memahami masalah penggunanya.”

Luthfiya Awwaliyah, Mahasiswa Sistem Informasi UBSI

Pengalaman Luthfiya memperlihatkan manfaat pembelajaran berbasis proyek. Dengan mengerjakan kasus yang menyerupai kondisi nyata, mahasiswa terlatih menganalisis kebutuhan, mengambil keputusan teknis, dan mempertanggungjawabkan hasil kerjanya.

Dengan menguasai kompetensi teknis, memahami proses bisnis industri, dan terus mengikuti perkembangan teknologi, lulusan rekayasa perangkat lunak berpeluang menjadi bagian penting dari transformasi digital di sektor manufaktur.

Kuliah...? BSI Aja!!

Pendaftaran : pmbubsi.id WhatsApp Official Kampus : 0823-2264-5403

Alamat Kampus : Jl. Ir H Juanda No 17 Cikampek


Pernyataan Hak Cipta & Redaksi:

Rilis berita ini diterbitkan secara resmi melalui sistem editorial Campus Career News (CCN) UBSI. Dilarang mengutip atau mendistribusikan sebagian atau seluruh isi rilis ini untuk keperluan komersial tanpa mencantumkan tautan sumber asli.