Bekasi – Maraknya kasus perundungan (bullying) verbal di lingkungan sekolah menjadi perhatian mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Bahasa, Universitas Bina Sarana Informatika (BSI). Mereka menginisiasi program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Safe Space: Ruang Tumbuh Tanpa Luka” di MTs Nurul Anwar, Bekasi Utara, sebagai wujud implementasi nilai-nilai Pancasila, khususnya sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, serta sila kelima, Keadilan Sosial.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 25 April 2026, ini mengusung pendekatan partisipatif melalui rangkaian aktivitas edukatif. Diawali dengan upacara pembukaan dan sambutan dari kepala sekolah, acara dilanjutkan dengan presentasi interaktif bertajuk “Semua Berhak Merasa Aman”. Materi tersebut mengedukasi siswa mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) dan hak anak untuk memperoleh lingkungan belajar yang aman secara psikologis.
Mengedukasi Siswa tentang Hak dan Keamanan di Sekolah
Ketua pelaksana kegiatan, Vhoni Shella Septiandika, menjelaskan bahwa program ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai dampak perundungan, termasuk tindakan verbal yang kerap dianggap sebagai candaan biasa.
“Kami melihat masih banyak siswa yang belum paham bahwa ejekan atau candaan yang menyakitkan adalah bentuk pelanggaran hak asasi mereka. Lewat program ini, kami ingin menanamkan bahwa sekolah harus menjadi rumah kedua yang menyembuhkan, bukan sumber luka emosional,” ujar Vhoni.
Melalui penyampaian materi yang interaktif, siswa diajak memahami pentingnya menghormati perasaan orang lain serta menyadari bahwa setiap anak berhak mendapatkan perlakuan yang aman dan bermartabat di lingkungan sekolah.
Kuis Interaktif dan Kampanye Anti-Bullying
Untuk membantu siswa memahami materi dengan cara yang menyenangkan, tim mahasiswa menyelenggarakan sesi “Kuis Seru HAM” dengan sistem kompetisi cerdas cermat. Para siswa diajak menganalisis berbagai skenario dalam kehidupan sehari-hari untuk membedakan perilaku yang menghormati hak asasi manusia dengan tindakan yang mengarah pada perundungan. Pemenang kuis mendapatkan hadiah tumbler sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka.
Puncak kegiatan diisi dengan pembuatan poster anti-bullying dan pembacaan ikrar warga negara cilik. Melalui aktivitas tersebut, siswa diajak berkomitmen untuk saling menghargai dan menjadikan MTs Nurul Anwar sebagai ruang aman yang bebas dari kekerasan verbal maupun fisik.
Selain rangkaian edukasi, tim mahasiswa juga menyerahkan plakat apresiasi kepada pihak sekolah sebagai bentuk penghargaan atas dukungan dan kerja sama dalam pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat tersebut.
Dukungan Sekolah terhadap Lingkungan Belajar yang Aman
Kepala MTs Nurul Anwar menyambut positif inisiatif yang dilakukan mahasiswa. Menurutnya, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kesejahteraan psikologis siswa perlu mendapat perhatian bersama, seiring dengan upaya meningkatkan prestasi akademik.
“Kami sangat berterima kasih. Program ini membuka mata kami bahwa kesehatan mental siswa sama pentingnya dengan nilai akademik. Poster dan jargon ‘Semua Berhak Aman’ sekarang terpampang di kelas-kelas sebagai pengingat harian,” ungkapnya.
Pesan utama kegiatan ini menekankan bahwa setiap warga sekolah memiliki peran dalam menciptakan lingkungan belajar yang nyaman. Beberapa sikap yang dapat diterapkan dalam keseharian siswa meliputi:
- Saling menghormati: menjaga perkataan dan tidak melontarkan ejekan yang dapat menyakiti perasaan teman.
- Menghargai perbedaan: menerima perbedaan pendapat, karakter, dan latar belakang setiap siswa.
- Berani bersikap: tidak ikut melakukan perundungan dan mencari bantuan guru ketika melihat tindakan yang membahayakan teman.
- Membangun kepedulian: memberikan dukungan kepada teman yang mengalami perundungan serta tidak mengucilkannya.
- Menjaga lingkungan sekolah: ikut menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan.
Mendukung Nilai Pancasila dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menjadi salah satu upaya menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sekolah. Penghormatan terhadap martabat manusia dan perlakuan yang adil terhadap sesama menjadi landasan dalam membangun hubungan sosial yang sehat di antara siswa.
Program ini juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta tujuan ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas. Keduanya relevan dengan upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung kesejahteraan siswa dan proses belajar yang aman.
Pelaksanaan kegiatan didokumentasikan dalam bentuk video yang diunggah melalui kanal YouTube resmi serta publikasi di media sosial. Dokumentasi tersebut diharapkan dapat membantu memperluas penyebaran pesan mengenai pentingnya pencegahan perundungan dan pembentukan lingkungan sekolah yang ramah bagi seluruh siswa.
Melalui program “Safe Space: Ruang Tumbuh Tanpa Luka”, mahasiswa berharap kesadaran mengenai bahaya perundungan dapat terus ditumbuhkan melalui kerja sama antara siswa, guru, sekolah, dan keluarga. Pembiasaan sikap saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari menjadi langkah penting untuk mewujudkan sekolah sebagai ruang tumbuh yang aman bagi setiap anak.
```